Powered by
category Liputan Kegiatan posted by Admins on Kamis, 28 Februari 2013 | 14:43 WIB

Sebagaimana diketahui pemenuhan gizi yang adekuat adalah merupakan salah satu hak dasar anak, yang tercantum dalam pasal 24, Konvensi Hak Anak, PBB 1989; karenanya WHO pada tahun 2002 menyusun kembali strategi yi The Global Strategy for Infant and Young Child Feeding, penekanan kembali untuk memperbaiki perhatian kepada dampak dampak praktek pemberian makan pada bayi dan balita yang dapat memengaruhi status gizi, pertumbuhan, kesehatan dan kelangsungan hidup generasi mendatang (Golden Period dan Golden Standard). Strategi ini disusun berdasarkan kesimpulan-kesimpulan, usulan-usulan dan saran-saran berbagai ahli dan peneliti yang secara global terkumpul sebagai suatu rekomendasi kesehatan masyarakat untuk melindungi, mempromosikan dan mendukung ASI eksklusif 6 bulan, serta menyediakan MP-ASI yang adekuat dan aman sambil meneruskan ASI sampai anak usia 2 tahun atau lebih. MP-ASI yang direkomendasikan adalah makanan yang aman, segar, dapat dibuat oleh keluarga dan menggunakan bahan-bahan lokal tidak mahal tetapi bekualitas sesuai kebutuhan perkembangan anak.

Tahun 2015 sebentar lagi, dan Indonesia nampaknya dalam status yang masih agak jauh dari target MDG 2015 yang disepakati bersama:a.l. target Angka kematian bayi 23/1000 KH dan Angka kematian Ibu 108/100,000 KH. SDKI 2007 melaporkan AKB 34/1000 KH dan angka ini menurun hanya sedikit sekali yi menjadi 32/1000 KH di SDKI 2012. Dalam 5 tahun turun 2 point. Menjadi 23 masih harus mengejar 9 point lagi, dan kalau kita tak berbuat apa2 mungkin itu baru tercapai 4,5 th lagi atau lebih.

Begitu pula kematian ibu yang saat ini masih 228/100,000 KH (SDKI 2007), yang nampaknya tak jauh berubah setelah 4-5 th kemudian, berarti masih harus mengejar 20 point lagi.

Terkait dengan Golden Standard, terutama fokus pada MPASI, pada kenyataannya sebagian besar anak tidak mendapat MP-ASI dengan benar, baik dari segi kuantitas maupun kualitas, terutama anak-anak di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Jika bayi dan anak usia 6 bulan sampai 24 bulan tidak dilatih dan diberi cukup gizi dari MP-ASI, akan mengakibatkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan fisik serta kognitifnya. Olah karena itu secara global disadari bahwa perbaikan pada kualitas dan kuantitas MP-ASI menjadi bagian penting dari masa depan suatu bangsa dan negara. Dalam hal ini Indonesia masih mempunyai masalah yang besar.

Peranan petugas kesehatan sebagai pelaksana pelayanan, pemantau dan penyuluh kesehatan dan gizi menjadi sangat penting untuk dapat memberikan informasi tentang praktik pemberian makanan yang baik untuk anak di usia emas tersebut kepada setiap ibu, pengasuh atau keluarga.

Pelatihan Mp-ASI.jpg

PERINASIA sebagai salah satu kelompok profesi dan pemerhati perkembangan bayi dan balita muda, merasa terpanggil akan tanggung jawab mulia ini, sebagaimana juga telah dilakukan untuk mempromosikan, mendukung dan melindungi pemberian ASI.

Pengetahuan, ketrampilan petugas dalam pola perkembangan anak, gizi anak, penyiapan makanan anak dan mengatasi masalah-masalah anak yang berkaitan dengan perilaku makan dan kurang asupan makanan bergizi, adalah merupakan hal-hal yang ditekankan di sini, di mana sebagian besar mengacu dan berstandar kepada pedoman-pedoman serta modul WHO-UNICEF.

Semoga sumbangsih PERINASIA yang tak seberapa ini dapat berguna baik bagi para anggota, petugas kesehatan, institusi kesehatan serta bangsa dan negara.

Dr Sri Durjati, MSc, PhD, IBCLC
Koordinator Pelatihan Manajemen MP-ASI PERINASIA