Powered by
category Liputan Kegiatan posted by Admins on Rabu, 4 Januari 2017 | 15:20 WIB

 

Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak (GKIA) adalah koalisi masyarakat sipil yang terdri atas berbagai lembaga non-pemerintah internasional dan nasional, oganisasi profesi, lembaga mitra pembangunan (UN Agencies) di bidang kesehatan ibu, kesehatan bayi dan anak, kesehatan remaja, dan gizi yang diluncurkan pada 23 Juni 2010. Perinasia merupakan salah satu organisasi pendukung GKIA.

GKIA telah berupaya menjadi wadah komunikasi dan koordinasi antarlembaga di tingkat nasional dan provinsi (khususnya provinsi NTT dan povinsi Banten) serta advokasi masyarakat sipil terhadap Pemerintah RI dan Parlemen (Dewan Perwkilan Rakyat) RI.

Dalam rangka ulangtahunnya yang ke-5, GKIA menyelenggarakan Simposium Praktik Cerdas di Bidang Kesehatan Ibu, Anak, Remaja dan Gizi tingkat nasional sebagai wadah berbagi pengetahuan dan  keterampilan serta memberikan ruang dan kesempatan bagi peserta dari daerah untuk berkonsultasi dengan pemerintah, DPRI RI, dan akademisi terkait praktik cerdas yang telah dilaksanakan dan akan dilakukan di masa mendatang.

Simposium Praktek Cerdas Bidang KIA, Remaja dan Gizi Gerakan Kesehatan Ibu dan Anak  (GKIA) ini dilaksanakan di Balai Kartini, Jakarta, pada 19 – 20 Agustus 2015.

Pada Hari pertama, Rabu, 19 Agustus 2015 acara dapat dimulai pada tepat pukul 09.00 dengan diawali oleh Pembukaan, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Doa Bersama. Selanjutnya disampaikan laporan ketua panitia oleh Asteria Aritonang dari Wahana Visi Indonesia. Pada laporannya Asteria Aritonang menekankan Simposium Praktik Cerdas GKIA ini berupaya menjaring praktik cerdas di bidang yang menjadi fokus GKIA yaitu gizi spesifik, gizi sensitif, kesehatan ibu, bayi dan balita, kesehatan remaja, ketahanan keluarga dan pembiayaan kesehatan dari berbagai lembaga di berbagai provinsi. Dalam periode 1,5 bulan terkumpul lebih dari 60 abstrak yng kemudian diseleksi dalam bentuk prsentasi oral, video, dan poster.

Berikutnya disampaikan sambutan pembukaan oleh Myrna Remata Evora, Country Director Plan International Indonesia. Pada pidato pembukaannya  ia mengatakan  bahwa persoalan kesehatan dan gizi masih sangat banyak di Indonesia. Hal ini dapat dilihat pada data yang ada di WHO dan juga Riskesdas tahun 2013. Beliau berharap bahwa simposium ini dapat membantu penyelesaian masalah kesehatan gizi anak, bayi, ibu, dan remaja di Indonesia khususnya demi pencapaian MDGs dan SDGs.

Pada sesi berkutnya, Ibu Menteri Kesehatan, Prof. DR. dr. Nila Djuwita F. Moeloek, SpM (K),  didapuk sebagai keynote speaker. Bertempat di ruang Raflesia,  beliau membawakan topik yang berjudul  Peran Masyarakat Sipil dalam Pembangunan Kesehatan Ibu   Anak dan Gizi – Post 2015.

Pada pidatonya, ibu Menkes mengucapkan terimakasih kepada para aktifis yang telah melakukan gerakan untuk ibu dan anak. Menurutnya ini adalah suatu gerakan yang sangat mulia yang telah memperhatikan kesehatan ibu dan anak dalam rangka membentuk sumber daya yang berkualitas.  Yang harus digarisbawahi, kita  bukan lagi bersaing antar negara tetapi antar individu. Tanpa mengesampingkan peran bapak, tidak dapat dipungkiri bahwa kaum ibu memiliki peran yang sangat besar terutama dalam membentuk sumberdaya manusia yang berkualitas. Dengan bergabung sebagai parent keduanya bekerjasama untuk anak-anak kita, demikian disampaikan.  Ibu Menkes mencoba menguraikan problem Kesehatan, Pendidikan dan Kesejahteraan atau Ekonomi yang merupakan parameter dalam Human Development Indeks . Berikut adalah uraiannya.

  1. Dalam bidang kesehatan, kita mencapai kelangsungan hidup kira-kira sekitar 70,2 tahun. Kita boleh mengamati bahwa sudah sekitar 70 tahun kelangsungan hidup kita sudah cukup baik: bisa hidup lebih panjang dari sebelumnya. Tetapi setiap populasi memiliki permasalahan juga khususnya pada orangtua dan manula.  Manula yang kita inginkan tentunya adalah manula yang sehat.
  2. Dalam bidang pendidikan saya menyoroti bahwa kita masih mencapai rata-rata tamat sekolah sekitar 8,1 tahun.  Boleh dikatakan ini adalah tamatan SD tetapi tidak tamat SMP. Dengan demikian apakah kita bisa bersaing secara global? Selain itu hal ini akan berkorelasi dengan persoalan/ kesenjangan ekonomi.
  3. Kita memiliki masyarakat yang rata-rata berpendidikan rendah. Apa yang kita harapkan? Mereka semua tentunya akan minim pengetahuan, minim keterampilan dan akibatnya ekonomi kita akan sulit untuk meningkat. Ini semua merupakan PR bagi kita semua. Yang menjadi pertanyaan “Kenapa mereka sekolahnya tidak cukup panjang ?” Mungkin kita semua akan menjawab bahwa akses dan layanan juga menjadi kendala dan saya setuju dengan itu. Georgafis di Indonesia tidak dapat dicapai dengan mudah.  Ada yang sulit sekali diakses. Dengan dana APBN 20% untuk pendidikan,  menurut saya harusnya semua ini sudah mencapai ke pelosok-pelosok di tanah air kita. Namun demikian untuk  mendapatkan akses layanan pendidikan dibutuhkan kerjasama lintas kementrian seperti Kementrian transportasi, guru dan juga bidang lainnya. Sebenarnya apa hubungan pendidikan dengan kesehatan? Jika kita melihat pendidikan kita demikian tentu kesehatan merupakan hulu. Sudah bisa saya jawab mereka yang mencapai pendidikan 8,1 tahun ini bisa dikatakan mereka yang “otaknya hang”, mereka tidak bisa menyerap pendidikan yang lebih tinggi. Di mana kesalahannya? Kesalahannya adalah tentu otaknya tidak berkembang, dengan begitu saya menyamakan dengan komputer jaman “baheula” yang 256 kilobyte . Coba bandingkan dengan yang gigabyte. Hal inilah yang terjadi pada anak-anak kita yaitu “otaknya hang” dan tidak bisa menyerap pendidikan, karena tidak bisa menyerap pendidikan kita bisa melihat apa yang terjadi pada anak-anak perempuan kita.”

Selanjutnya, Ibu Menkes mengatakan, “ Sekali lagi saya menegaskan saya lebih memperdulikan perempuan bukannya saya mengesampingkan laki-laki tetapi karena perempuan lebih banyak mengemban tugas.Terutama ibu harus mengetahui bagaimana dia mendidik anaknya, bagaimana dia menjaga kesehatan anaknya dan bagaimana dia menjaga kesehatannya sendiri serta dia berhak menentukan jumlah keluarganya. Itu artinya dia harus mengetahui tentang Keluarga Berencana (KB) dan penggunaan alat kontarsepsi. “

Terkait hal tersebut Ibu Menkes melihat bagaimana peran NGO di sini. Disampaikannya bahwa NGO perlu mempelajari apa saja yang merupakan hak masyarakat sehingga bisa disosialisasikan, mengedukasi isu-isu kesehatan, memotivasi agar mereka bisa hidup sehat dan bersih dan juga melindungi mereka dari problem-problem sosial.

Setelah Ibu menkes memberi “keynote speech”, acara dilanjutkan dengan Plenary Session 1. Acara ini berlangsung di ruangan yang sama dan diikuti oleh seluruh peserta. Pleno pertama ini berlangsung sejak pukul 10.00-12.00.  

Pleno pertama ini dimoderatori oleh dr. Wiyarni Pambudi. SpA, IBCLC

Materi pertama adalah Kajian Global di 6 Negara - Strategi Masyarakat Sipil dalam Mendukung Kebijakan Menyusui oleh dr.Wahdini Hakim, MWH dari Save the Children Indonesia.

Simpulan dari materi ini adalah, di keenam negara dalam penelitian ini ditemukan bahwa kerjasama dan koordinasi terciptanya lingkungan yang mendukung, implementasi program, advokasi dan dukungan terhadap tenaga kesehatan merupakan komponen penting dalam memengaruhi adanya komitmen politik yang mendukung praktik pemberian ASI.

Yang menarik dari sesi ini adalah rekomendasinya.   Dari presentasinya beliau merekomendasikan beberapa hal berikut:

  1. Tingkat international: Perlu meningkatkan kepemimpinan/leadership terkait program untuk mendukung menyusui : ada platform disebut global advocacy initiative, global strategy for IYCF dan BFHI.
  2. Tingkat nasional:  Dalam konteks Indonesia sendiri, pemerintah sudah memiliki desain yang cukup komprehensif, memiliki RPJMN dan seterusnya, dan bagaimana mendukung rencana kerja yang sudah dibuat tersebut. Organisasi masyarakat sipil dan donor perlu merujuk kepada rencana kerja pemerintah yang sudah ada dan membantu menyempurnakannya, membuat inovasi dan melakukannya dalam skala yang lebih besar dan dapat menjangkau pelosok negeri.
  3. Meningkatkan koordinasi yang ada di level nasional. LSM-LSM dan organisasi non-profit di level nasional atau di level daerah, organisasi-organisasi yang punya afiliasi di tingkat global, sinerginya yang perlu dikuatkan,
  4. Identifikasi champion untuk pesan-pesan yang konsisten terkait menyusui, advokasi dan komunikasi dengan pesan yg kosisten akan membantu keberhasilan program.  Perlu champion di berbagai tingkatan, masyarakat, kesehatan, akademisi baik level nasional atau international yang menyuarakan pesan-pesan yang konsisten.

Tema kedua yang berjudul Kajian Kualitatif Dukungan Menyusui Di RS Melalui Program Rumah SakitSayang Bayi Di Indonesia, oleh dr. Fransisca Handy, SpA, dari SELASI, PPK-UI merupakan studi pertama dari rangkaian 2 penelitian yang terselenggara dengan dukungan dari Pusat Penelitian Kesehatan UI, Sentra Laktasi Indonesia, Universitas California San Fransisco. Tujuan pertama dalam penelitian pertama adalah untuk melihat dan mengevaluasi bagaimana pelaksanaan RS sayang bayi saat ini di Indonesia dan juga untuk mengidentifikasi kendala-kendala serta hal-hal baik yang sudah ada di RS kita untuk kendaraan kita meningkatkan kualitas RS di Indonesia. Sedangkan penelitian kedua yang saat ini masih dalam tahap persiapan, bertujuan untuk meningkatkan dukungan di RS untuk mendapatkan bukti ilmiah dan untuk membandingkan dampak BFHI ini terhadap komunitas bayi sehat dibandingkan BFHI.

Studi yang dilakukan Save the Children dan UK University of Dandy, akan dipublikasikan, available dan bisa diakses. Saat ini sedang dalam penulisan tahap akhir.

Topik ketiga adalah Praktik Cerdas Pemberian Makanan Bayi dan Anak, oleh Sri Sukotjo  dari UNICEF. Yang menarik dari presentasi ini adalah apa yang disampiakan oleh narasumber di bagian penutup yakni, “Dalam pelaksaanaan program  2 sampai 3 tahun ini masih banyak sekali tantangannya.  Tantangan ini kami dapat dari teman-teman di lapangan karena adat dan budaya yang mempengaruhi pemasaran makanan ini. Letak geografis teman-teman yang ada di Papua, masih belum adanya dukungan dari lintas sektor, banyak yang menginginkan melihat perubahannya secara instan padahal untuk merubah prilaku cukup sulit dan butuh waktu yang lama, terakhir tidak adanya pendampingan pasca pelatihan yang belum terintegrasi dengan layanan kesehatan.”

Pleno pertama ini mengundang antusiasme peserta. Beberapa pertanyan muncul dari berbagai latar belakang profesi, insitusi dan daerah asal peserta.

 

Sesi berikutnya  adalah diskusi tematik. Peserta dapat memilih tema berdasarkan minat masing-masing.  Adapun pilihannya antara lain meliputi  tema  mengenai promkes ke sekolah-sekolah, kelompok laki-laki peduli keluarga, pijat bayi, tumbuh kembang anak, perawatan tali pusat dll. Beberapa ruang disediakan untuk diskusi dan demo. Ruang demo berada di antara booth-booth pameran. Masing-masing ruang mengundang antusiasme dari para peserta. Selain pembahasan materi dan demo ada juga kelas pemutaran video dan poster-poster dengan tema sepuar KIA. Di antara waktu senggang untuk sekadar menghibur peserta panitia juga menyediakan foto booth bagi peserta yang berminat difoto dengan latarbelakang dan flyer berisi pesan-pesan yang mendukung isu-isu mengenai kesehatan ibu dan anak dan berbagai aksesoris lainnya.

Bagi peserta pada umumnya, acara selesai pada kelas-kelas tematik. Pada kalangan terbatas acara masih berlanjut dengan Undangan Terbatas Diskusi Peserta Daerah: Rencana Tindak Lanjut Koalisi GKIA oleh Presidium GKIA.

 

Simposium hari kedua dimulai  pada pukul 09.00. Plennary Session 2 ini dimoderatori oleh dr. Budhi Setiawan, MPH dari UNICEF

Materi pertama berjudul Keselamatan Pasien: Urusan Siapa? oleh dr. Purnamawati, SpA dari Yayasan Orangtua Peduli. Kesimpulan dari presentasi beliau adalah: Konsumen kesehatan merupakan pihak yang paling berkepentingan di negara dengan sistem kesehatan yang kuat sekalipun. Angka kematian akibat medical error menempati urutan ke-5, di atas angka kematian akibat HIV/AIDS dan angka kematian akibt kecelakaan lalu lintas. Layanan kesehatan yang berkualitas adalah layanan kesehatan yang professional, artinya mendahulukan kepentingan pasien, layanan kesehatan yang padat akal (bukan padat ongkos), layanan kesehatan yang transparan dan sesuai bukti ilmiah alias EBM atau kedokteran berbasis bukti.

Materi kedua berjudul  20 Tahun MTBS: Sampai Mana Indonesia? oleh DR.dr. Brian Sriprahastuti, MPH dari Save the Children. Presentasinya menyimpulkan bahwa Indonesia menghadapi kendala untuk bisa konsisten menerapkan MTBS, karena masalah ketersediaan dan pemerataan tenaga kesehatan serta kecukupan logistik, terutama di daerah miskin, terpencil dan geografis sulit selain masalah kepatuhan petugas pada protap. Menerapkan layanan intervensi melalui pendekatan MBS seharusnya disertai dengan strategi untuk penjangkauan balita untuk cakupan semesta. MTBS menjadi salah satu metode untuk memastikan balita sakit mendapatkan layanan kesehatan yang berkualitas, dalam arrtian rasional, tepat dan merata. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan komitmen kuat dari pemerintah daerah, untuk mengatasi kendala yang dihadapi sehingga kebuuhan input dapat terpenuhi.

Materi ketiga berjudul Standar Pelayanan Minimum 2015-2019, Upaya Kesehatan Ibu dan Anak oleh Prof. dr. Purnawan Junadi, MPH, PhD.  Kesimpulan dari presentasi ini adalah: Pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk menjamin setiap warga negara untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang memadai sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kebijakan desentralisai memberikan wewenang kepada pemerintah daerah untuk mewujudkan komitmen mobilisasi sumber dana daerah untuk memenuhi SPM Kesehatan.

Pada pleno kedua ini pun, peserta cukup antusias untuk berdiskusi. Namun karena keterbatasan waktu, beberapa penanya tidak dapat diakomodasi oleh forum.

Tidak berbeda dengan hari pertama, pada hari kedua pun kelas-kelas berdasarkan materi yang berbeda disediakan di beberapa ruangan. Tema yang diangkat pun beragam, dari mulai Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR), anggaran, praktik PMBA, promkes, peranan gender dalam KIA dll.

Acara ditutup dengan Diskusi terbuka yang membahas Rangkuman Rekomendasi Hasil Diskusi Pleno dan Tematik dilanjutkan dengan Penutupan Seminar.