Powered by
category Liputan Kegiatan posted by Admins on Selasa, 16 Sepember 2014 | 14:58 WIB

Sari Handayani

Sekretaris Eksekutif Perinasia

 

 “Bagaimana cara kita sebagai guru berkomunikasi pada anak kelas 3 SD. Saat mengajar suka memberikan tugas-tugas yang berhubungan dengan internet. Pada saat mereka mengakses internet, kadang muncul gambar-gambar yang tidak diinginkan. Bagaimana mengatasinya?”

 

“Kapan komunikasi bisa dimulai?  Ada anak kelas 2 dan 3 SD yang mulai mempertanyakan apa itu hubungan intim? Kenapa dari hubungan intim seorang ibu bisa melahirkan?  Bagaimana menjelaskannya?”

 

 “Saya di bagian Promosi Kesehatan, sudah beberapa kali membina remaja dan anak SD. Apa tipsnya untuk memberikan pengarahan pada peserta sekitar 40 orang.  Seringkali mereka tidak dapat dipisah antara laki-laki dan perempuan, sementara itu waktu yang disediakan juga terbatas.”

 

“Anak-anak perempuan yang mengalami kekerasan, jika selaput daranya pecah, masih bisakah tumbuh lagi? Lalu, bagaimana cara menyampaikan KRR pada remaja, bisakah dengan cara ‘berbohong sedikit’ misalnya kalau disentuh payudaranya akan hamil dsb”.

 

“Saya juga mendapati beberapa klien, seorang anak berusia 13  tahun sudah hamil, ada usia 15 tahun sudah melahirkan, ada yang usia 17tahun hamil diperkosa oleh orangtua. Bagaimana menjelaskan hal itu pada usia-usia seperti itu? Apakah kehamilannya boleh digugurkan?”

 

“Saya memiliki keponakan, kelas 1 SD. Dia sudah memiliki gadget mewah. Pada saat dia sudah bisa membuka youtube, dia bersikap yang mencurigakan. Dia suka menutup apa yang sedang dilihatnya. Ternyata dia membuka konten yang tidak pantas dilihat. Setelah didesak mengaku awalnya dia hanya ingin membuka “berbie”. Sesudah itu dia ketagihan, membuka lagi, dan membuka lagi. Bagaimana mengatasinya?”

 

 

Di atas adalah beberapa pertanyaan menarik yang disampaikan peserta Seminar “Berbincang Masalah Kesehatan Reproduksi dengan Remaja, Mengapa Tidak?”. Seminar ini diselenggarakan oleh Perinasia dalam rangka Hari Pendidikan Nasional pada hari Sabtu, 3 Mei 2014 bertempat di Ruang Serba Guna RS Kanker Dharmais, Jakarta.

 

Sebanyak 80 peserta hadir dari berbagai kalangan, yaitu guru SD-SLTP-SLTA, dosen akademi/ universitas/STIKES, Puskesmas, Rumah Sakit, Dinas Kesehatan, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), pemerhati remaja, dan  orang tua remaja.

 

Penyelenggaraan seminar ini antara lain dilatarbelakangi oleh maraknya permasalahan remaja yang berkaitan dengan perubahan gaya hidup, melonggarnya nilai budaya dan kontrol sosial, informasi dari berbagai sumber dan media yang tidak bisa dibendung, anak tumbuh “sendiri” sementara orang tua bekerja. Tidak sedikit informasi yang salah diterima oleh anak dan remaja, termasuk mengenai seksualitas. Hubungan seks pranikah, kehamilan remaja, keinginan dan upaya melakukan aborsi, upaya mengalihkan keinginan mendapatkan pelayanan aborsi dari petugas kesehatan menjadi adopsi, pernikahan dini, dan kasus-kasus pelecehan/ kekerasan seksual yang muncul melalui media adalah sebagian dari permasalahan kesehatan reproduksi remaja. Kecenderungan berganti-ganti pasangan karena belum terikat dalam perkawinan juga membuat remaja terpapar kemungkinan tertular Penyakit Menular Seksual (PMS) dan HIV/AIDS. Maraknya pemberitaan mengenai tindakan pelecehan seksual, pemerkosaan, semakin menambah panjang deretan persoalan KRR. Persoalan tersebut jelas memerlukan perhatian serius, apalagi kalau ingin mewujudkan persalinan aman dan bayi lahir sehat. Upaya membentuk perilaku seksual yang bisa mengantar remaja pada kesiapan menjadi orangtua yang bertanggung jawab pun semakin mendesak. 

 

Perinasia menyadari sepenuhnya bahwa pemahaman mengenai Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) perlu dimiliki oleh masyarakat, khususnya remaja. Disinilah diperlukan keterlibatan para orangtua, pendidik, dan praktisi kesehatan untuk mensosialisasikan KRR kepada para remaja. Pada intinya seminar ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan peserta tentang bagaimana menyampaikan/menjelaskan permasalahan reproduksi kepada remaja dan mensosialisasikannya di lingkungan mereka.

Berikut topik dan narasumber pada seminar tersebut:

1.    Gaya Hidup Remaja (fakta dan angka tentang remaja; memahami dan komunikasi efektif dengan remaja; dampak psikologis gaya hidup pada remaja) oleh Vitria Lazzarini, MPsi, Psikolog

2.    Tantangan dalam Menangani Permasalahan KRR (Dampak negatif akibat kurangnya Pemahaman KRR, mengembangkan program KRR, solusi melalui bimbingan, penyuluhan, konseling) oleh Bd. Indra Supradewi, SKM, MKM

3.    Cara Membicarakan Perkembangan Reproduksi oleh dr. Agung Witjaksono, Sp.OG

4.    Cara Berdiskusi dengan Remaja agar Paham Dampak Perilakunya terhadap Kesehatan Reproduksi oleh Ariana Novadian Abrin, S.Psi, Psikolog

5.    Bagaimana membentengi Remaja dari Pengaruh Buruk Media (sosial, cetak, elektronik) oleh Dra. Nina. M. Armando, M.Si.

 

Dalam menghadapi remaja, yang perlu kita lakukan adalah tidak menyalahkan dan tidak menghakimi. Situasi nyaman akan muncul kalau kita bisa berempati. Kita perlu memahami dulu, tidak membandingkan dengan remaja-remaja lainnya. Mengapresiasi yang sudah dia kerjakan. Kita juga perlu mengupdate situasi yang sekarang (bahasa gaul, hobi, dll) agar bisa bicara dalam ‘satu frekuensi’ dengan remaja. Kita perlu tahu apa yang menjadi tren sekarang. Kita harus bisa percaya pada remaja, karena apa yang dihayatinya, itu yang penting buat dia. Mereka memiliki privasi, kekhawatiran dan harapan-harapan sendiri. Jadi yang kita berikan adalah informasi. Kalau mau berdiskusi dengan mereka, cari tahu dulu apa yang mereka pahami dan tangkap. Buat mereka terlibat dalam percakapan.

 

Informasi KRR bisa sedini mungkin dimulai dengan tingkatan-tingkatan tertentu. Misalnya, ‘kamu anak perempuan, kamu anak laki-laki’. Ini perlu dijelaskan dengan betul sejak awal, jangan menggunakan simbol tertentu, misalnya burung untuk penis. Pada usia 2-3 tahun, anak perlu diajarkan kemandirian, misalnya ke toilet. Perbincangan ini bisa dimulai sejak awal. Contoh pertanyaan tentang hubungan intim, coba tanyakan pada anak apa yang diketahuinya mengenai itu. Mungkin yang dibutuhkan anak bukan jawaban tentang masuknya penis ke vagina.

 

Dalam melakukan kegiatan KRR, untuk peserta yang jumlahnya banyak, kita sampaikan materi yang umum, misalnya, materi anatomi fisiologi remaja, masalah-masalah yang dihadapi remaja. Jika ada pertanyaan yang lebih detail, bisa dikonsultasikan lebih lanjut sesudah pertemuan. Pemberian materi dapat dilakukan melalui kegiatan ekstrakurikuler, kerohanian, dsb.

 

Pertanyaan tentang selaput dara, ditangggapi sebagai berikut: bentuknya beraneka macam, ada yang lubang di tengah agak besar, di pinggir, dll, ini baru bentuk. Ada yang mudah robek, ada yang lentur. Jika robek, tidak ada mekanisme normal untuk membuatnya utuh kembali.

 

Konseling KRR dapat diberikan pada usia tertentu. Kejadian buruk yang menimpa anak bisa dilakukan oleh orang-orang terdekat, bahkan oleh mereka yang memiliki hubungan keluarga, misalnya paman atau bahkan orangtua, ini sudah masuk dalam kategori kekerasan. Hal ini akan menjadi dilematis karena anak belum siap. Konseling tidak bisa untuk anak saja tetapi juga orangtua.  Pastikan anak aman dulu, Puskesmas harus mempunyai jaringan dengan lembaga terkait. Jika anak mengalami Infeksi Menular Seksual (IMS), diperlukan dukungan dari orangtua, anak yang bermasalah ini membutuhkan akses obat, akses ke Rumah Sakit dll.

 

Bagaimana orangtua menyikapi penggunaan media?. Pertama, orangtua harus berbicara pada anak sebelumnya, jam berapa boleh nonton, tidak hanya pada anak tetapi seluruh anggota keluarga. Jam boleh menggunakan internet, termasuk saat makan, dan tidur tidak boleh ada gadget. Hal ini perlu disepakati bersama. Kedua, harus ada pembatasan media apa dan di mana diletakkan? Harus ada di ruang publik. Di mana dan kapan mengakses media itu, perlu disepakati dalam keluarga. Ketiga, perlu dibicarakan dengan anak, media itu sifatnya seperti apa? Ini untuk mengantisipasi hal-hal yang dikhawatirkan.  Misalnya, dari kata “berbie” saja bisa muncul gambar-gambar yang tidak diinginkan.  Banyak konten-konten yang tidak diharapkan muncul dari kata-kata yang netral, jalan masuknya bisa lewat bahasa generik. Selain itu, guru juga harus hati-hati memberikan tugas. Ada kasus anak PAUD sudah diberi tugas membuka youtube. Soal seperti ini pun harus diketahui sekolah. Guru harus memberitahu pada orangtua tugas apa saja yang diberikan. Saat anak menonton TV, coba lakukan pendampingan, lakukan mediasi. Bagaimana jika orangtua bekerja? Siapapun yang bertugas menjaga anak baik baby sitter, nenek, dll harus pintar.

 

Menyikapi anak yang mengakses internet, kita perlu memperhatikan Do and Don’t di internet, semakin dilarang semakin “SMAP” (Sungguh Mati Aku Penasaran). Ada rambu-rambu yang bisa digunakan untuk mengawasi penggunaan internet, dapat dibuka di http://ictwatch.com. Ada petunjuk di sana mengenai penggunakan internet yang benar. Mengenai situs porno di internet kita harus bicara seperti apa? Yang perlu diperhatikan adalah terkadang saat kita berkomunikasi dengan remaja, yang terjadi bukanlah membangun jembatan, tetapi membangun benteng. Yang dilakukan adalah mengintrogasi, ini yang buruk.  Kita harus melepaskan ego, cool saja. Tidak usah cerewet, tidak usah dominan.  Jadikan kita sebagai teman anak kita. Kita perlu membangun jembatan dengan anak, bicara sebagai teman. Jangan menghakimi.  Kita bisa pasang strategi pura-pura bodoh (pin-pin bo). Ini untuk memancing, anak akan senang jika kita sebagai orangtua tampak lebih bodoh.

 

Demikian bahasan singkat tentang KRR yang disampaikan dalam seminar lalu. Peserta sangat antusias, banyak pertanyaan menarik diajukan ketika diskusi. Pada intinya, remaja adalah masa transisi, perlu diberi informasi yang benar agar sehat secara fisik, mental, dan bisa bertanggung jawab, menjalankan fungsi reproduksi dengan baik. Perinasia akan terus mempromosikan KRR, baik melalui seminar maupun pelatihan karena permasalahan kesehatan reproduksi remaja dan tantangannya semakin besar.