Powered by
category Artikel Ilmiah posted by Admins on Rabu, 21 Maret 2012 | 16:00 WIB

ASI vs Susu Formula

Edi Setiawan Tehuteru, dr., Sp.A, IBCLC.


Pernah melihat iklan kejuaraan tinju dunia? Biasanya tertulis lebih kurang seperti ini: “Saksikan Pertandingan Tinju untuk Memperebutkan Gelar Juara Dunia antara Kris John vs petinju Filipina X misalnya….” Jika melihat judul di atas, saya mempunyai kesan bahwa ASI dan Susu Formula sedang diadu ibaratnya dua petinju yang sedang berada di atas ring. Pada akhirnya, sesuatu yang diadu pasti harus ada yang dinyatakan menang dan kalah. Apa artinya kalau ASI yang menang atau sebaliknya Susu Formula yang menang? Apakah layak untuk keduanya di adu?


Menurut saya, keduanya tidak layak untuk diadu. Sebagai manusia, sebenarnya kita membutuhkan keduanya. Ibaratnya kita makan di restoran barat, dimana biasanya tersedia sendok untuk sup, sendok untuk makan makanan utama, garpu kecil dan besar, pisau untuk mengoles mentega dan untuk memotong daging, kadang kita tidak mengetahui kapan waktu yang tepat untuk menggunakan semua perkakas makan yang tersedia di depan kita. Tidak mengherankan jika kita sering melihat orang menggunakan sendok yang harusnya untuk sup akhirnya dipakai untuk makan makanan utama. Apakah pernah ada kompetisi memperebutkan kejuaraan peralatan makan terfavorit? Semua yang tersedia di sekitar piring diperlukan, namun kita sebagai pengguna yang harus mengetahui kapan masing-masing alat makan tersebut dipakai.


Demikian halnya dengan ASI dan Susu Formula. Keduanya ada di sekitar kita, akan tetapi kita harus mengetahui kapan waktu yang tepat untuk menggunakannya. Air susu ibu adalah anugerah yang luar biasa yang Tuhan berikan kepada manusia. Sebagai ungkapan syukur kepada-Nya, sudah selayaknya setiap manusia memberikan ASI kepada setiap bayi yang lahir ke permukaan bumi ini. Bagaimana kenyataannya? Belum semua bayi yang lahir ke dunia ini mendapatkan apa yang menjadi haknya, yaitu ASI. Kita tidak perlu mencari kambing hitam dalam permasalahan ini. Lihatlah dulu diri kita masing-masing. Sebagai manusia yang mensyukuri karunia Tuhan, sudah dapat dipastikan ia akan memberikan yang terbaik untuk bayinya. Ini bukan berarti yang belum memberikan ASI tidak mensyukuri karunia-Nya. Saya lebih melihat ini karena mereka belum memiliki pengetahuan yang sepadan, layaknya orang yang makan di restoran barat, dia tidak memiliki pengetahuan tentang kapan menggunakan garpu yang kecil dan yang besar. Berbicara mengenai pengetahuan, artinya semua ini dapat dipelajari. Buat ibu-ibu, dokter, perawat, bidan, atau siapa saja yang kerjanya berhubungan dengan kesehatan, jangan enggan untuk belajar. Tanyakan pada orang-orang atau organisasi-organisasi yang anda anggap layak untuk memberi pengetahuan tentang ASI. Jangan pernah merasa malu untuk terus belajar demi kesehatan bayi yang sudah Tuhan titip dan percayakan kepada kita.


Harus kita akui bahwa memang tidak semua bayi dapat menikmati ASI. Ada kondisi-kondisi tertentu yang mengharuskan mereka mendapat Susu Formula. Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan sebenarnya telah mengatur hal ini dalam pasal 128, yang berbunyi: Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam) bulan, kecuali atas indikasi medis. Masalahnya, kalimat “atas indikasi medis” inilah yang sering diplesetkan sehingga dengan mudahnya kita sebagai tenaga kesehatan langsung memberi Susu Formula sebagai solusi.  Sebagai contoh sederhana saja, kita tenaga kesehatan sering sekali sudah memberikan Susu Formula pada bayi usia satu hari karena ASI belum keluar. Akhirnya, jadilah ini salah satu “indikasi medis” untuk memberikan Susu Formula.


Apa benar kalau ASI belum keluar bayi terindikasi untuk diberi Susu Formula supaya tidak lapar atau haus?

Inilah pentingnya semua tenaga kesehatan yang ada di Indonesia memiliki pengetahuan tentang ASI. Kita tidak perlu mengkhawatirkan bayi kelaparan atau kehausan karena ASI belum keluar pada hari pertama. Tuhan telah melengkapi bayi-bayi yang baru lahir ini dengan cairan yang dan lemak coklat yang cukup untuk bertahan hidup selama ASI belum keluar. Kita tidak perlu takut bayi-bayi mungil ini mengalami apa yang kita khawatirkan. Justru dengan memberi Susu Formula, ASI keluarnya lama karena Susu Formula akan berada lebih lama di dalam perut bayi akibat penyerapan usus terhadap Susu Formula yang lebih lama dibanding ASI . Semakin lama Susu Formula berada di dalam perut bayi, semakin lama kenyangnya. Kalau kenyangnya lama, bayi semakin jarang menghisap payudara ibunya. Semakin jarang payudara ibu dihisap, semakin lama ASI akan keluar karena hormon-hormon utama pendukung produksi ASI hanya akan keluar kalau payudara ibu sering dihisap oleh bayinya. Menurut literatur, ASI biasanya akan keluar dengan lancar pada hari kedua atau ketiga. Selama itu, seperti telah diterangkan di atas, kita tidak perlu khawatir karena Tuhan sudah memikirkan segala sesuatunya untuk sang bayi.


Guna menghindari interpretasi liar yang dapat muncul dari istilah “indikasi medis”, Badan Kesehatan Dunia tahun 2009 telah mengeluarkan buku panduan yang berjudul “Alasan-alasan Medis yang Dapat Diterima untuk Pemberian Makanan Pengganti ASI”. Berikut ini adalah indikasi atau kondisi dimana bayi boleh diberikan Susu Formula, yaitu:

  • bayi dengan galaktosemia,

  • penyakit maple syrup urine,

  • fenilketonuria,

  • bayi lahir dengan berat badan kurang dari 1500 g,
  • bayi dengan masa gestasi kurang dari 32 minggu,

  • bayi yang mempunyai risiko mengalami hipoglikemia,

  • bayi yang lahir dari ibu yang mengidap HIV, Herpes Simpleks tipe 1, menderita penyakit yang berat yang tidak memungkinkan si ibu merawat bayinya,

  • ibu sedang dalam pengobatan dan mengkonsumsi obat-obatan penenang, obat-obatan yang mengandung radioaktif, kemoterapi, yodium

Buku panduan ini dapat diunduh dari internet. Sebagai catatan, bayi dengan galaktosemia juga tidak bisa diberikan susu formula dari bahan susu sapi karena tidak dapat mencerna galaktosa yang berasal dari lactose.

Kadang, sekalipun kita sudah mengetahui hal tersebut di atas, kita masih saja terjerumus untuk melakukan kesalahan yang sama, yaitu memberikan Susu Formula untuk suatu indikasi yang tidak tepat akibat  pengaruh yang sangat kompleks. Salah satunya adalah akibat gencarnya promosi Susu Formula. Guna membantu mereka yang kerap bekerja dengan ibu hamil, ibu menyusui, dan bayinya, agar tidak mudah tergoda, bacalah buku “Kode International Pemasaran Makanan Pengganti ASI”. Di dalam buku yang diterbitkan oleh Badan Kesehatan Dunia tahun 1981 ini, kita dapat mengetahui bagaimana seharusnya seorang tenaga kesehatan bersikap terhadap ASI dan Susu Formula.

Mulai saat ini kiranya kita tidak lagi membanding-bandingkan mana yang terbaik antara ASI dan Susu Formula. Keduanya baik dan diperlukan, hanya saja kita perlu mengetahui kapan waktu yang tepat untuk menggunakannya. Agar tidak lupa dengan pesan ini, ingat saja ketika anda sedang makan di meja makan dengan piring dan perkakas makan yang ada di sekitarnya.